Tulisan kali ini bukanlah tulisan iseng-iseng berhadiah laiknya program reality show yang ditayangkan di ANTV. Tulisan ini lebih dilatari karena kekhilafan pribadi yang baru terjawab sekarang. Kekhilafan yang berlangsung enam tahun lamanya. Berawal dari keinginan mendalami ilmu agama, akhirnya, aku menemukan ayat berikut ini:
“Apakah mereka menganggap berasal dari Allah Perempuan-perempuan yang mengenakan perhiasan dan ketika berdebat tidak bisa memberikan alasan yang jelas.” (QS. Az-Zukhruf:18)
Yah, sedikit gemas dan merasa dipinggirkan. Maklum, waktu itu aku masih puber dan tengah belajar mengenai gerakan feminisme. Tak luput aku dari sikap congkak dan sempat menampik kebaikan di dalamnya. Astagfirullah, aku khilaf. Tapi kini, kena deh …aku kena batunya.
Sebelum aku melanjutkan cerita batu apa yang mengenaiku, yuk yuk kita flash back setelah setahun berlalu sejak aku mengkaji ayat itu. Masih dengan perasaan geram yang sama, aku cari sejumlah buku yang bisa mengafirmasi pandanganku. Aku pun menemukan buku dengan judul Menggugat Sejarah Perempuan. Bukannya meredam emosiku, buku ini malah memanaskan hatiku. Singkat cerita, buku ini amat patriarki. Meskipun mungkin, pengarangnya bermaksud baik.
Aku berpikir lagi, tidak sedikit perempuan, baik muslimah maupun yang kafir sekalipun, duduk sebagai orang penting yang secara kontekstual mampu berargumen. Dalam dunia Islam, ada Asiah, Aisyah, dan Fatimah Zahra. Dalam dunia Barat pun ada Margaret Teacher dan Condoleeza Rice.
Akhirnya, aku berusaha membuktikan bahwa otak ini mampu berargumen. Keberanianku pun tidak kalah dengan perempuan Anshar. Insya Allah, aku juga tidak akan gentar saat menuangkan pendapatku laiknya Nabi Musa AS di hadapan Firaun.
Laiknya api yang disiram bensin, rasa gemasku berubah jadi kesal ketika salah satu sehabatku yang kebetulan pria menyalahartikan salah satu hadis Rasulullah SAW.
“Wanita itu kurang akal dan agamanya” (HR Bukhari Muslim)
Terlepas dari sanad dan matan-nya hadis itu, aku tetap tersulut pada cara berpikir primodial masyarakat Indonesia yang selalu menegasikan perempuan. Aku memutuskan untuk belajar semakin dalam, belajar mengasah logika, belajar bersikap objektif, belajar meredam emosi…Astagfirullah, aku menzalimi diriku sendiri.
Amarah itu pun perlahan hilang, tapi bukan karena telah terjawab. Tapi karena aku yakin, Allah akan menjawabnya kelak. Entah kapan? entah dimana? entah melalui apa?
Akhirnya, aku harus meledek diriku sendiri. Kena deh…aku kena batunya. Karena sekarang, masa telah menjawabnya. Tiba bagiku, bahwa logika dan netralitas tak lagi ada, sehingga emosi saja yang harus bicara.
Padahal, berbagai jenis presentasi telah aku lalui. Berbagai pertanyaan yang menuntut argumentasi juga berusaha kujawab. Bahkan, ayahku yang begitu kusanjung pun berani kubantah jika kami harus berdebat.
Baru kali ini, aku sadari…perencanaan, sistematika, dan keberanian luluh lantak karena rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Rasa yang membuat bibirku kelu. Rasa yang membuat lidahku diiris sembilu.
Lagi-lagi, aku harus meledek diriku sendiri. Kena deh…aku kena batunya. Dulu aku abaikan rasa ini, karena teralalu yakin pasti waktu yang akan melenyapkannya.
Baru kali ini, aku sadar…waktu ternyata menjaganya hingga tumbuh indah dan aku terpesona olehnya. Baru kali ini, aku sadar…tak seseorangpun yang sempurna, sampai akhirnya dia jatuh cinta.
Subahanallah, ayat Allah tetaplah benar dan hanya mereka yang mau bersabar yang akan menemukan kebenarannya.***