Pie Buah di Ujung Bibirku

September 4th, 2008 by lelly-kawai

Pie buah … yummy, yummy, yummy. Kue kering yang satu ini memang tergolong cantik. Saus vanilla atau agar-agar yang menyelimuti aneka buah di atasnya menggoda selera semua lidah untuk mencicipinya. Ada anggur, jeruk, cherry, strawberry, sampai kiwi bertabur mewarnai permukaan si cantik yang sempit.

Eeiit, tunggu dulu. Kue ini tidak hanya cantik, tapi juga menggemaskan. Apalagi melihat ukurannya yang tergolong mungil, membuat kita tak tahan berlama-lama untuk segera menghabiskannya. Hanya satu dua gigitan, si kecil yang cantik ini lumat bersama nikmat. Yummy, yummy, yummy, lezat.

Ternyata, kenikmatan si mungil yang cantik ini makin bertambah ketika kita memakannya di tengah temaram persehabatan. Aneka buahnya, ragam warnanya, macam rasanya, merupakan lambang dari persehabatan kita. Tak serumpun, tak serupa, tapi sehati. Lucu. Apa benar kita sehati? Apa benar kita saling mengerti? Apa benar kita selalu berbagi?

Oh iya, hampir saja amnesia menyerangku. Bukankah Nabi selalu ajarkan kita untuk berbagi? Ya, ya, ya. Sama ketika sebuah pie buah yang dihantarkan di ujung bibirku saat berbuka puasa. “Ini kue kesukaanku,” pekikku.
Tidak sampai lima menit kue itu lenyap ditelan bersama. Tapi kuingat lagi, Nabi mengajarkan kita untuk berbagi. Lalu datanglah pie buah yang jumlahnya lebih banyak. Ternyata, berapapun banyaknya pie buah yang disuguhkan, pie itu selalu habis, habis ditelan oleh persehabatan kita, habis tenggelam oleh tawa kita yang membuncah. Yummy, yummy, yummy.

Aku ingin berbagi lagi seperti yang Nabi ajarkan padaku … berbagi tentang makna hidup tidak hanya lewat rasa, tapi juga masa.

Kaca Spion

August 28th, 2008 by lelly-kawai

Kaca spion, berapa pun mahalnya, aku tak pernah benar-benar melihatnya. Terkadang malah tidak sama sekali.
Kaca spion, padahal begitu membantuku saat mengendara. Sayangnya, tidak membantuku dalam menjajaki laju kendaraan.
Kaca spion, hanya untuk tampilkan pemburu-pemburu maut yang hendak menerjang. Salahnya, aku jadi penasaran ikuti jejak.

Kaca spion seperti masa lalu yang hanya boleh ditengok sekali-sekali. Karena jika sering kita menengok, maka arah langkah mudah goyah..mungkin karena luka … mungkin karena duka.
Bukankah perjalanan itu maju ke depan sama seperti jarum jam yang terus berputar ke arah kanan. Karena jika kita ikuti jarum jam yang bergerak ke arah kiri, tandanya ‘tiada’ … tiada aku, tiada kamu, tiada kita, tiada siapapun.

Saat melihat kaca spion yang berdiri di kepala motormu. cuma tertunduk belaka.
"Sesal…?"
"Tidak, cuma tersesat."
"Itu kan hanya kaca spion…"
"Tapi ia pantulkan jejak."
"Itu kan hanya jejak…"
"Tapi kuhancurkan semua kaca spionku, agar kau tidakk tersesat karena jejakku."
"Siapa bilang aku kan tersesat? Itu kan hanya kaca spion…"
"Aku memang bodoh…karena melihat kaca spion."

Aku tahu, aku suka…

Aku tahu, aku lupa…

Aku lupa, aku luka…

Aku suka, aku luka…

Cemburu

August 11th, 2008 by lelly-kawai

Hmmm…pembahasan yang asyik bukan? Apalagi saat kita lagi diselimuti kemelut perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sebut saja cinta.
Hmmm…Kenapa ya cemburu selalu saja dikaitkan dengan cinta? wajar kali’. Karena Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang saja juga Maha Pencemburu. Alhamdulillah Rabku pencemburu.
“Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa’d? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’d dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitab An-Nikah, Bab Al-Ghirah dan Muslim no. 3743)
Sa’d Bin ‘Ubadah adalah salah satu pemimpin dari Bani Anshar yang punya rasa cemburu yang amat sangat, sampai-sampai ia akan menebas kepala pria manapun yang berani mendekati isterinya.
Menurutku sih, sikapnya bagus, bagus banget. karena dia khawatir kalau-kalau isterinya berbuat zina dengan pria yang tidak berhak baginya. Kisahnya hampir mirip ya..saat Pasha, vokalis group band Ungu, menghajar gitaris group band Marvels yang kepergok berjalan berdua dengan isteri Pasha, Okie. Langsung aku menarik jempol-jempolku…BAGUS!!! (sambil ngacungin empat jempol).
Tapi itukan ketika hubungan telah halal. Lalu gimana kalau belum? sempet juga tuh jadi pembahasan. Yah sambil cengar cengir sendiri, mengingat diriku ini juga pencemburu. Bahkan, pada ayahku dan kakak laki-lakiku saja aku akan cemburu. Eits jangan salah kaprah. Aku bukan Father or Brother Compelex. Aku akan cemburu kalau ayahku dan kakakku bermanis-manis ria sama semua wanita yang bukan haknya. Aku akan cemburu pada ayah dan kakakku jika mereka mengizinkan perempuan yang bukan mukhrimnya masuk dalam jarak keakaraban atau keintiman sosial (Ini bisa dilihat dalam buku Sosiologi kelas 2 SMU, jadi acuan banget nih). Aku juga akan cemburu pada ayah dan kakakku kalau mereka bersolek di luar tujuan yang jauh dari keridha’an Allah.
Intinya, kecemburuan kita harus beralasan, beralasan karena Allah. Jangan hanya cemburu buta. Tapi ada kisah lain yang menyebutkan, Kalau Aisyah isteri Rasulullah itu cemburu pada semua orang yang dekat dengan Rasulullah. Bisa dibilang cemburu buta sih. Tapi Ini sih masih kategori manusiawi, jadi harus dimaklumi. Bukannya aku membela Aisyah lho. Louis Lane ajah, salah satu karakter di Smallville, harus mengurung cintanya dua kali berturut-turut karena dia gak mau berbagi kekasihnya (yang kebetulan super hero juga) dengan dunia. Karena dia pasti akan dinomor duakan. Gitu sih alasannya waktu di season 7 Smallvile, waktu dia nolak Green Arrow yang tampannya Subahanllah.
Balik lagi ke pembahasan, cemburu dalam hubungan yang belum halal. Yah pertanyaan itu muncul tiba-tiba dari temanku yang kebetulan naksir ma kakakku yang tertampan ketiga di dunia. Kenapa aku nggak cemburu sama kekasih kakakku yang belum halal? Kelimpungan juga aku jawabnya. Sambil narik nafas, kali aja ada ide yang lewat. Akhirnya aku jawab, di antara kakakku dan kekasihnya sudah ada komitmen yang jelas ke hubungan yang halal. Jadi, kekasih kakakku itu sudah harus belajar untuk mengingatkan kalau-kalau kakakku khilaf. Yah bisa dibilang pelajaran pra wedding lah.
Pembahasan ternyata belum memuaskan sohibku yang satu itu. Pertanyaan bergulir pada komitmen. Yah, dimana-mana komitmen pasti mempunyai rentan waktu, sama seperti Presiden SBY saat harus menandatangani kontrak sosial sebelum diangkat oleh MPR.
Hidup itu kan memang terdiri dari hubungan sosial dimana komitmen antar personal saling dihadapkan. Komitmen pra wedding itu berapa lama aku juga belum menghitung secara matematis sih. Tapi berdasarkan info dari temanku yg lebih berpengalaman, cinta yang dituangkan dalam aktivasi hormonal (kalau nggak salah hormon PEA, tapi aku gak tahu singkatannya apa) hanya aktif paling lama 4 tahun. Kata temanku lagi nih, PEA ini membuat kita jadi deg-degan kalo ketemu si dia, merasa terbang ke langit ke tujuh kalau dia memperhatikan kita, dll. Kesimpulannya, bukan komitmen namanya kalau hubungan yang gak halal itu berlangsung empat tahun atau lebih. Ini kesimpulan pertama. Belum berhenti sampai di situ lho.
Niat baik itu jangan ditunda. Yah bener banget tuh. Siklus perjalanan manusia menurut lirik lagunya Bimbo kan kan ada tiga, kelahiran; pernikahan; kematian. Tidak banyak manusia yang mampu melengkapi seluruh siklus tersebut. Kalau sampai terjadi, berarti dia bukan manusia yang sempurna. Kenapa? Gerbang kedua kan menyempurnakan setengah agama. Gimana mau sempurna kalau setegahnya aja belum terwujud. Oops, penjelasannya kejauhan nih, balik lagi ke topik yang tadi. Jangka waktu komitmen, murabiahku (guru agama) pernah berujar. Setelah masa taaruf itu harus segera diikuti dengan melamar yang jangka waktunya tidak terlalu lama. Kata-kata tidak terlalu lama itu kan relatif, yang penting jangan lebih dari setahun. Inga-inga, hormon PEA yang berkolaborasi dengan syetan itu MEMBAHAYAKAN. Sedangkan berdasarkan info dari orang yang kukagumi..hehehe..masa lamaran dengan pernikahan itu paling lama tiga bulan.
Kesimpulan yang kedua adalah, satu tahun merupakan jangka waktu paling lama setelah komitmen dibuat. Tiap ada orang yang minta penyuluhan, aku selalu berpatokan pada jangka waktu itu sih. Padahal aku kan bukan pakar. Praktek aja belum. Gara-gara patokan itu, aku jadi was-was sendiri nih..Mungkin juga harus mengingatkan kakakku lebih sering lagi nih..   

Kena Deh…

August 5th, 2008 by lelly-kawai

Tulisan kali ini bukanlah tulisan iseng-iseng berhadiah laiknya program reality show yang ditayangkan di ANTV. Tulisan ini lebih dilatari karena kekhilafan pribadi yang baru terjawab sekarang. Kekhilafan yang berlangsung enam tahun lamanya. Berawal dari keinginan mendalami ilmu agama, akhirnya, aku menemukan ayat berikut ini:

“Apakah mereka menganggap berasal dari Allah Perempuan-perempuan yang mengenakan perhiasan dan ketika berdebat tidak bisa memberikan alasan yang jelas.” (QS. Az-Zukhruf:18)

Yah, sedikit gemas dan merasa dipinggirkan. Maklum, waktu itu aku masih puber dan tengah belajar mengenai gerakan feminisme. Tak luput aku dari sikap congkak dan sempat menampik kebaikan di dalamnya. Astagfirullah, aku khilaf. Tapi kini, kena deh …aku kena batunya.

Sebelum aku melanjutkan cerita batu apa yang mengenaiku, yuk yuk kita flash back setelah setahun berlalu sejak aku mengkaji ayat itu. Masih dengan perasaan geram yang sama, aku cari sejumlah buku yang bisa mengafirmasi pandanganku. Aku pun menemukan buku dengan judul Menggugat Sejarah Perempuan. Bukannya meredam emosiku, buku ini malah memanaskan hatiku. Singkat cerita, buku ini amat patriarki. Meskipun mungkin, pengarangnya bermaksud baik.

Aku berpikir lagi, tidak sedikit perempuan, baik muslimah maupun yang kafir sekalipun, duduk sebagai orang penting yang secara kontekstual mampu berargumen. Dalam dunia Islam, ada Asiah, Aisyah, dan Fatimah Zahra. Dalam dunia Barat pun ada Margaret Teacher dan Condoleeza Rice.    

Akhirnya, aku berusaha membuktikan bahwa otak ini mampu berargumen. Keberanianku pun tidak kalah dengan perempuan Anshar. Insya Allah, aku juga tidak akan gentar saat menuangkan pendapatku laiknya Nabi Musa AS di hadapan Firaun.

Laiknya api yang disiram bensin, rasa gemasku berubah jadi kesal ketika salah satu sehabatku yang kebetulan pria menyalahartikan salah satu hadis Rasulullah SAW.

“Wanita itu kurang akal dan agamanya” (HR Bukhari Muslim)
 
Terlepas dari sanad dan matan-nya hadis itu, aku tetap tersulut pada cara berpikir primodial masyarakat Indonesia yang selalu menegasikan perempuan. Aku memutuskan untuk belajar semakin dalam, belajar mengasah logika, belajar bersikap objektif, belajar meredam emosi…Astagfirullah, aku menzalimi diriku sendiri.   

Amarah itu pun perlahan hilang, tapi bukan karena telah terjawab. Tapi karena aku yakin, Allah akan menjawabnya kelak. Entah kapan? entah dimana? entah melalui apa?

Akhirnya, aku harus meledek diriku sendiri. Kena deh…aku kena batunya. Karena sekarang, masa telah menjawabnya. Tiba bagiku, bahwa logika dan netralitas tak lagi ada, sehingga emosi saja yang harus bicara.

Padahal, berbagai jenis presentasi telah aku lalui. Berbagai pertanyaan yang menuntut argumentasi juga berusaha kujawab. Bahkan, ayahku yang begitu kusanjung pun berani kubantah jika kami harus berdebat.

Baru kali ini, aku sadari…perencanaan, sistematika, dan keberanian luluh lantak karena rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Rasa yang membuat bibirku kelu. Rasa yang membuat lidahku diiris sembilu.

Lagi-lagi, aku harus meledek diriku sendiri. Kena deh…aku kena batunya. Dulu aku abaikan rasa ini, karena teralalu yakin pasti waktu yang akan melenyapkannya.

Baru kali ini, aku sadar…waktu ternyata menjaganya hingga tumbuh indah dan aku terpesona olehnya. Baru kali ini, aku sadar…tak seseorangpun yang sempurna, sampai akhirnya dia jatuh cinta.

Subahanallah, ayat Allah tetaplah benar dan hanya mereka yang mau bersabar yang akan menemukan kebenarannya.***

Afeksi

July 29th, 2008 by lelly-kawai

Bias-bias materi telah membohongi kejengahan yang termangu dalam diriku.
Hingga sebelum berjumpa dengan Ahad, aku merasakan perih di dada.
Aku berusaha mencari netralitas tapi terantuk oleh degupan kencang di jantungku.
Aku berupaya mencari hukum objektivitas, namun terjerat oleh subjektivitas.
Tiada akal, tiada logika, yang ada hanya emosi belaka.
Ratapan tiris tampaknya kan sia-sia.
Karena asa yang terpendam lama kini berjumpa dengan Sri Rama.

Soulmate

December 19th, 2007 by lelly-kawai

 

Pada awal tahun 2005, bioskop-bioskop
besar ibu

kota

diramaikan oleh penayangan perdana film berjudul “belahan jiwa”. Tidaklah
mengherankan jika film ini cukup mendapat sorotan dari masyarakat. Pasalnya,
film yang berdurasi dua jam ini menggunakan artis-arti ternama ibu

kota

seperti Dian
Sastrowardoyo, Nirina Zubir dan Rachel Meriam. Namun, ada satu hal menarik dari
keseluruhan film ini, yaitu setiap peran wanita dalam film ini merasa bahwa
Bhumi (tokoh utama pria) adalah belahan jiwa mereka (soul mate).

Istilah “belahan jiwa” memang sering
terdengar dalam kisah-kisah romantis. Bahkan, secara tidak sadar kita pernah menggunakannya, tapi apakah kita
mengetahui dari mana terminologi kata tersebut? Atau bagaimana ungkapan
“belahan jiwa” bisa hadir dalam perbendaharaan kata yang kita gunakan?

Salah satu terminologi bahasa daerah, Jawa menyebutkan, isteri disebut garwo atau kepanjangan dari sigaring nyowo. Dalam bahasa Indonesia sigaring nyowo berarti pecahan jiwa
alias belahan jiwa.
Dari
makna tersebut, kita telah menemukan satu petunjuk, istilah “belahan jiwa”
merujuk pada perempuan.

Sedangkan dari sisi teologis,
terutama ajaran agama langit (Islam dan Kristen), Hawa (perempuan) terbentuk
dari tulang rusuk Adam (laki-laki). Dengan kata lain, perempuan merupakan
belahan atau bagian dari laki-laki.

Alasan lain yang merefleksikan perempuan adalah belahan jiwa seorang pria
dapat dilihat secara biologis, yaitu dalam hukum Mendel. Hukum Mendel
merumuskan, kromosom pembentuk pria adalah XY sedangkan perempuan hanyalah XX. Karena
perempuan hanya merupakan bagian dari pria, maka perempuan hanya memiliki satu jenis
kromosom saja yaitu X dan tidak memiliki Y.

Dari beberapa uraian singkat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa
hanya kaum prialah yang selaiknya mengatakan “kaulah belahan jiwaku” kepada
perempuan, bukannya sebaliknya. Sayangnya, fakta di lapangan memperlihatkan
kecenderungan yang berbeda. Perempuan modern lebih senang mencari “pria” yang
mereka sebut sebagai “belahan jiwa”. Perubahan tingkah laku perempuan masa kini
selalu mengatasnamakan emansipasi, sehingga semua perkara di-generalisasi-kan. Akibatnya,
makna “belahan jiwa” menjadi rancu karena masyarakat cenderung salah kaprah.

Meskipun masih terdapat ketidakpahaman akan istilah “belahan jiwa”, pilihan
untuk berkomunikasi dengan pasangan tergantung pada sudut pandang anda? Apakah masih terus menggunakan nomenclature “belahan jiwa” secara umum, baik laki-laki
maupun perempuan atau menggunakannya berdasarkan terminologi.

 

Merdeka Tapi Tidak Mulia

August 14th, 2007 by lelly-kawai

Menjelang hari kemerdekaan RI yang ke-62, Indonesia  dihebohkan dengan berita  Indonesia Raya Versi sebelum kemerdekaan yang disebut Roy Soeryo sebagai bait ke-2. Spontan, banyak pihak yang menilai bahwa Roy Soeryo yang  katanya ahli teknologi informasi dan komunikasi itu seorang yang gila publisitas.
Dibalik semua ke-eksibisionis-an Roy Soeryo, tengok dan bandingkanlah kedua bait Indonesia Raya tersebut. Jika yang telah direvisi mengumandangkan "merdeka, merdeka", sedangkan yang belum revisi "mulia,mulia", maka kita akan menemukan sebuah kejanggalan yang tidak hanya sekedar kata tapi juga psikologis. Pada bait yang telah direvisi ada bukti de facto dan de jure bahwa Indonesia memang telah merdeka, sekaligus menutup kesadaran masyarakat bahwa kita masih terjajah. Baik terjajah oleh bangsa asing maupun bangsa sendiri. Faktanya, secara ekonomi kita bangsa ini belum dapat lepas dari cengkraman kemiskinan; secara sosial budaya, terjadi reduksi identitas nasional dalam diri generasi muda kita; secara politik;  kita hanya jadi follower yang ikut-ikutan kebijakan negara lain yang semuanya dicover atas nama Pancasila. Mungkin inilah kemerdekaan sejati manusia pada umumnya dan Bangsa ini Khususnya, yaitu sebagai homo homini lupus, bahwa kita memang selalu akan berusaha memakan sesamanya. Jadi buat apa merdeka kalau tidak mulia?   

Scholar Tapi Uneducated

May 3rd, 2007 by lelly-kawai

 Hampir tiap
tahun kita memperingati hari pendidikan nasional, hampir tiap tahun pula negeri
ini menghasilkan ribuan lulusan siswa dan mahasiswa. Jumlah ini pun menunjukan
tanda-tanda peningkatan. Dengan kata lain masyarakat yang melek huruf semakin
bertambah dan orang-orang yang bisa membaca semakin banyak. Namun, jika
dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kenapa kualitas pendidikan di
negeri kita semakin merosot? Depdiknas pun mengambil keputusan untuk meningkatkan
standar nilai kelulusan dari angka empat pada tahun 2005 menjadi

lima

pada tahun 2007. Hal
ini dilakukan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia

Indonesia

agar mampu bersaing di
era globalisasi. Spontan, sindrom khawatir akan ketidaklulusan merambah
kalangan pendidik maupun siswa. Untuk mengantisipasi kegusaran massal ini,
beberapa waktu silam wakil presiden Yusuf Kalla pun berujar optimis bahwa
meskipun standar nilai kelulusan dinaikan, siswa yang lulus UN mencapai kurang
lebih 90%. Hal ini sesuai dengan prediksi yang diungkapkan oleh Mendiknas,
Bambang Sudibyo. Prediksi ini pun harus terbentur oleh fakta di lapangan dimana
kelulusan lebih banyak diwarnai oleh tindak kecurangan hampir di seluruh
sekolah di tanah air. Parahnya, Pembocoran soal dan kunci jawaban ujian telah
berlangsung lama bahkan mungkin mendarah daging.

Jika tindak
kecurangan ini dikategorikan sebagai pencurian atau tindak kriminalitas, tentu
pelakunya harus diadili secara yuridis, tidak peduli pihak yang memberikan
jawaban maupun yang menerima. Namun jika kejahatannya dilakukan secara massal,
bagaimana jadinya? Lembaga masyarakat di

Indonesia

saja sudah overload, mau dikemanakan calon-calon
napi ini nantinya?

Mungkin dari
argumen di atas ada beberapa pihak yang protes, kenapa pihak yang menerima juga
harus dinyatakan bersalah? Ingat saja satu hukum ekonomi, penawaran tidak akan
ada, jika tidak ada permintaan. Dengan kata lain kalau tidak ada penadah maka
pembocoran soal tidak akan pernah terjadi. Dalam hal ini banyak pihak yang
menilai bahwa kalangan pendidik (guru, kepala sekolah, dll) selalu menjadi
pihak yang bertanggung jawab penuh atas bocornya soal-soal UN. Sebab, pendidik
merupakan sosok yang dianggap sebagai tauladan. Ini sesuai dengan peribahasa
guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Retorika ini cukup menjelaskan
bagaimana mainstream anak bangsa jika
berada di bawah asuhan pendidik-pendidik yang korup. Jadi, kita tidak perlu
heran kalau banyak kasus korupsi yang dilakukan secara beramai-ramai. Wajarlah
jika bangsa kita terbiasa untuk melakukan kejahatan secara berjamaah (collective criminality), pendidikannya
toh sudah dipupuk sejak dini. Kondisi ini juga tidak lepas dari mentalitas
bangsa kita yang ‘malu-malu mau’, sehingga banyak orang yang bersikap apatis
dan pragmatis, bahkan tidak jarang sikap ini ditunjukan oleh kalangan siswa dan
orang tua siswa.

Hal yang lebih
patut kita renungi adalah kita juga menjadi pihak-pihak yang bertanggung jawab
atas kejahatan masal tersebut! Jika kita mengetahui suatu kejahatan tapi kita
malah menutup mata, kita tidak ubahnya sama seperti mereka yang sudah tidak
punya akal dan hati nurani yang sehat. Namun, disamping berbagai peristiwa yang
mencoreng sejarah pendidikan negeri ini, kita masih patut bersyukur dan
berbangga karena ternyata masih ada orang-orang yang mau rela berkorban demi
kemajuan ibu pertiwi. Sebut saja gerakan air mata guru di Medan dan penolakkan sekelompok
siswa SMU untuk mengikuti UN di Padang. Mereka tidak peduli jika berbagai
bentuk intimidasi menimpa mereka, karena mereka lebih peduli pada tegaknya
keadilan di ibu pertiwi. Oleh karena itu, Jika membenci suatu kebusukan, jangan
hanya dipendam dalam hati tapi juga harus dituangkan lewat perbuatan. Apalagi
jika kamu merasa bersekolah dan mengenyam pendidikan. So, jangan pernah mengaku
anak sekolahan (scholar) kalau
mentalnya tidak berpendidikan (uneducated)!
Karena anak yang bersekolah memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan
ilmunya di masyarakat dengan harapan mampu menciptakan kesejahteraan dan
menjaga keberlangsungan bangsanya. Ingat! kemajuan negeri ini terkait erat
dengan mentalitas bangsa dan mentalitas bangsa tergantung dari diri kita
sendiri, lho!

Kala Cinta Mulai Berbisnis

November 18th, 2006 by lelly-kawai

Jika Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah candu, maka aku berfikir bahwa cinta jugalah candu. Bukan hanya karena alasan ia merupakan konsep moral yang adiktif tapi juga karena secara historis ia pun dielu-elukan dan dipuja. Buktinya saja, orang-orang Yunani dan Romawi memvisualisasikan cinta dalam wujud Dewi Aphrodite ataupun Venus untuk mereka pinta dalam hal

asmara

. Padahal cinta telah mengeksploitasi jiwa manusia hingga kurus tanpa daya, dia memperbudak manusia, bahkan sejak Adam AS dilempar ke bumi.

Kini, di jaman yang katanya “global”, semua perkara bisa jadi “gombal”. Hal ini berlaku juga dengan cinta. Ia menjadi asupan yang tak henti-hentinya diekspos besar-besaran, tanpa ada jeda. Segala media dirambahnya untuk memenuhi jiwa manusia yang kerontang dan lemah. Dia mengikat jiwa manusia dalam ketergantungan penuh, tanpa memberikan kesempatan manusia untuk mandiri. Jika mau, dia akan mengombang-ambingkan kalbu dalam suka duka. Di sungguh memiliki power . . . dan mulai berpolitik laiknya parpol.

Tidak peduli di masa kampanye ataupun tidak, orang-orang meng-atasnama-kan tindakannya berdasarkan cinta. Contohnya saja dalam syair lagu “because you love me” oleh Celine Dion.

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me

I’m everything I am
Because you loved me

Hal yang sangat disanksikan adalah masih adakah tulus ikhlas dalam dunia yang penuh budaya popular ini? Jika cinta sudah berani berpolitik maka ia berupaya untuk memiliki ataupun menguasai. Hal ini pun di sahkan dalam lagu “love” oleh Kenny Loggins.

Love is living

Living love

Love is needing to be loved

Sayangnya, batas antara politik dan ekonomi semakin pudar karena asimilasi kepentingan. Entah itu kepentingan siapa, sehingga cinta mudah sekali ditemukan dan dipasarkan, lalu diper-jualbeli-kan. Dengan bantuan tangan-tangan kapitalisia mulai ia berbisnis. Ia menjadi input sekaligus output. Sehingga jelas, bahwa kini ia adalah “materi”. Awalnya memang ia merupakan konsep normatif, namun karena kesaktiannya ia mampu bermetamorfosis sesuai dengan tuntutan modernisasi. Ia adalah permanent concept yang melanda seluruh generasi. Kemudian berinovasi dalam akal-akal manusia.

Kelompok kapitalis memanfaatkan masyarakat plural di bawah satu bendera “cinta”. Oportunitas kapitalis pun tampak dengan menciptakan pasar yang homogen (Benjamin R Barber, Jihad VS Mcworld: Fundamentalisme, Anarkisme Barat dan Benturan Peradaban, Pustaka Promenthea:

Surabaya

). Cinta jadi industri saat ilmu pengetahuan dan teknologi kian membrutal untuk kemudian merubah sosok manusia menjadi sebuah monster konsumtif yang setia menyerap pasar. Lagu atau pun sastra mungkin telah lama memboncenginya, tapi iklan, film, sinetron, internet lebih efektif di era modernisasi.    

Bersambung . . .

Fenomena Lebaran

October 23rd, 2006 by lelly-kawai

Suka, duka, kecewa, marah terluka, dan teman2nya yg lain campur jadi satu dalam aura hati yg tak kunjung berhenti, kecuali oleh kematian. Tapi dalam satu momen yg bernama lebaran, semuanya harus sirna dengan satu seragam yg sama, “saling memafkan”. Dengan kata lain, kita memulai lembaran baru.

Tapi bedug yg mengelu-elu, ketupat dan opor ayam, kue remah, serta baju baru selalu jadi fenomena yg tidak lepas dari lebaran. Setiap tahunnya, tanpa peduli apakah itu dalam generasi yg berbeda atau tidak. Sehingga lebaran Cuma jadi budaya, bukannya lembaran baru yg disucikan oleh ibadah selama bulan Ramadhan. Krn toh segala rasa yg menghampiri hati akan sulit dinetralisir! Jadi, wajar saja kalau ada segelintir orang yg bilang kalau lebaran hanya hypocrite snobbish yang ikut2an lantaran budaya.